Catatan Bayu Krisnamurthi: Kepakan Sayap Kupu-kupu SDG

Catatan Bayu Krisnamurthi: Kepakan Sayap Kupu-kupu SDG

Bayu Krisnamurthi, Ketua Pengurus Yayasan Bina Swadaya. Foto : Trubus.id 05 Juli 2020 19:01 WIB

Trubus.id -- Pada tahun 1963, Edward Lorenz, seorang matematikawan dan ahli meteorologi Amerika, membuat presentasi di depan Akademi Sains New York dengan menyatakan bahwa seekor kupu-kupu – yang mengepakkan sayapnya di Brazil, dapat menyebabkan perubahan molekul-molekul udara disekitar sayap itu, yang lalu secara berantai dan bersambung akan mampu mempengaruhi kondisi udara dan iklim lebih luas, yang pada gilirannya dapat menyebabkan timbulnya tornado di Texas.

Dapat dibayangkan hampir seluruh hadirin dalam presentasi Lorenz menertawakannya. Memang sangat sulit membayangkan bahwa satu kepakan sayap kupu-kupu yang lembut itu bisa menimbulkan angin puting beliung. Namun pembuktian matematika yang kemudian dilakukan menunjukkan apa yang dinyatakan Lorenz memang dapat terjadi. Lahirlah Teori Chaos, dan apa yang dipresentasikan Lorenz itu kemudian dikenal sebagai efek kupu kupu atau the Butterfly Effect.

Pemikiran Lorenz tersebut kemudian menarik perhatian para pemikir dan penulis, melahirkan buku dan film. Andy Andrew menulis buku The Butterfly Effect, How Your Life Matters tahun 2009. Sebelumnya, Hollywood memproduksi film The Butterfly Effect tahun 2004 dengan Ashton Kutcher dan Amy Smart sebagai pemain utamanya; dan kemudian juga diikuti film kedua dan ketiga dengan judul yang sama. Kesemuanya mengembangkan imajinasi fiksional untuk menunjukkan betapa hal yang terlihat atau dianggap kecil – ternyata tidak (selalu) berarti kecil sama sekali.

Pemikiran inilah yang tampaknya juga terbukti dengan Covid, dalam konteks pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).

Di tahun 2019, suatu jasad renik yang sangat sangat kecil, entah bagaimana bisa loncat dari hewan – kemungkinan kelelawar – ke manusia, lalu secara khusus menyasar bagian tertentu dalam saluran pernapasan manusia tadi, jadilah penyakit yang mematikan. Kejadian di salah satu pojok dunia bernama Wuhan, kemudian menyebar – benar-benar – ke setiap pojok dunia lainnya hanya dalam hitungan bulan. Dan kemudian berdampak pada hampir setiap hal dalam kehidupan manusia: sosial, ekonomi, perdagangan, politik, bisnis, gaya hidup, seluruhnya.  Dapatlah dikatakan Covid adalah bukti The Butterfly Effect nyata terjadi.

Efek ‘kepakan sayap kupu-kupu’ pada pencapaian SDG juga nyata. Pada awalnya, penyusun SDG meyakini bahwa pencapaian satu tujuan akan membuka jalan dan memudahkan pencapaian tujuan yang lain. Pencapaian bagi satu orang atau satu desa atau satu wilayah akan juga berdampak positif bagi pencapaian orang lain dan daerah lain. Prinsip ‘no-one-left-behind’ (tidak ada yang ditinggalkan, semua mendapat kesempatan) yang dikedepankan dalam SDG bukan hanya untuk mereka yang kurang beruntung dan menjadi sasaran utama SDG tetapi juga bagi mereka yang mampu dan ingin berbuat untuk membantu pencapaian SDG. Dapat dikatakan SDG mengharapkan ‘efek kepakan sayap kupu-kupu’ pada skala global sedemikian sehingga setiap usaha – sekecil apapun itu – akan berdampak besar.

Sayangnya, Covid menunjukkan ‘efek kepakan kupu-kupu’ memang terjadi dalam usaha mencapai SDG, tetapi dalam arti yang negatif. Covid jelas mempengaruhi pencapaian SDG nomor 3 ‘Kesehatan yang Baik’. Covid kemudian jelas menunjukkan telah memukul mundur pencapaian SDG 8 ‘Kesempatan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi’, SDG 1 ‘Penghapusan Kemiskinan’ dan SDG 2 ‘Tanpa Kelaparan’.

Namun semakin banyak data juga menunjukkan bahwa masalah yang ditimbulkan Covid menjadi lebih besar dan signifikan karena usaha pencapaian SDG 13 ‘Penanganan Perubahan Iklim’ belum sesuai target di tahun 2019. Demikian juga dengan pencapaian SDG 15 ‘Menjaga Ekosistem Darat’ atau pencapaian SDG 12 ‘Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab’.

Yang juga sangat serius adalah meskipun Covid menyerang semua dan tidak mengenal perbedaan ras, agama, orientasi politik, atau kondisi ekonomi; namun data korban dan pasien menunjukkan terdapat perbedaan yang besar dan nyata antara mereka yang mampu memperoleh pelayanan kesehatan, mereka yang mampu menjaga kualitas makanan pendukung imunitas, mereka yang memiliki cukup tabungan dan dapat tinggal di rumah saja, atau mereka yang punya akses terhadap internet; dengan mereka yang tidak memiliki kemewahan itu. Covid tidak diskriminatif, tetapi kesenjangan yang besar dan belum tercapainya target SDG 10 ‘Pengurangan Ketimpangan’ jelas menyebabkan dampak Covid yang berbeda diantara masyarakat.

Yang kita butuhkan sekarang adalah ‘kepakan sayap kupu-kupu’ yang lain, yang lebih positif. Kita membutuhkan rangkaian usaha-usaha produktif dan konstruktif, semangat positif yang tak henti-henti, harapan yang dibangun tanpa putus asa; agar gelombang usaha-usaha itu – seberapa kecilpun awalnya – akan menciptakan riak gelombang bersambung dan berkelanjutan hingga mencapai skala global.  

‘Kepakan sayap kupu-kupu’ SDG harus terjadi, tidak hanya untuk mengatasi dampak Covid dan menghapus ancaman Covid atau ancaman yang serupa di masa depan, tetapi juga untuk mengembalikan kemanusiaan dalam jalur yang lebih tepat waktu dalam usaha mencapai SDG, untuk membangun dunia kembali yang lebih baik; to build back the world, better. 

 

Tentang Penulis:

Bayu Krisnamurthi adalah dosen agribisnis IPB, penulis, dan pegiat SDG. Pernah menjadi Wakil Menteri Perdagangan dan Wakil Menteri Pertanian. Saat ini, beliau adalah Ketua Pengurus Yayasan Bina Swadaya, sebuah lembaga kewirausahaan sosial yang diakui kepeloporan dan keunggulannya dalam meningkatkan keberdayaan masyarakat.

TrubusOpini
Penulis : Bayu Krisnamurthi
Editor : Syahroni

Opini Lainnya

Syahroni 28 Agu 2020 17:04 WIB