Catatan Bayu Krisnamurthi: Ilmu Corona

Catatan Bayu Krisnamurthi: Ilmu Corona

Ketua Pengurus Yayasan Bina Swadaya, Bayu Krisnamurthi Foto : Trubus.id/TH A Krisnaldi G 01 Feb 2020 10:00 WIB

Trubus.id -- Corona artinya ‘crown’, mahkota. Membawa makna yang terkesan indah dan agung. Tetapi Coronavirus yang mengemuka beberapa minggu terakhir sungguh sama sekali tidak menimbulkan kesan indah dan agung itu. Yang ada adalah gambaran kematian, kota yang diisolasi, dan situasi kedarutan (emergency) dalam skala internasional.
 
Tanggal 31 Januari jam 6 pagi, WHO mengumumkan bahwa virus Wuhan telah menjadi kedarutan internasional (international emergency). Tanggal dan jam pengumuman itu penting karena perkembangan yang sangat cepat dapat merubah situasi sewaktu-waktu.
 
Pada saat pengumuman WHO itu, korban meninggal karena penyakit yang disebabkan Virus Wuhan telah mencapai 170 orang, dengan 7711 orang telah dinyatakan sebagai terkena penyakit, terutama di China, tetapi telah menyebar ke 15 negara. Sejumlah 81 ribu orang juga telah masuk dalam observasi karena diduga ada kemungkinan terinfeksi.

Baca Lainnya : Tak Hanya Virus Corona, Berikut 10 Penyakit Zoonosis yang Gemparkan Dunia
 
Di Amerika Serikat telah ada kasus penularan pertama dari manusia ke manusia, yaitu dari istri yang menularkan penyakit itu kepada suaminya. Sang istri baru saja melakukan perjalanan dari Wuhan.
 
Pemerintah Cina melakukan kegiatan yang luar biasa. Sebanyak 50 juta orang di karantina di wilayah Wuhan dan provinsi Hubei. 6000 turis di Italia juga diisolasi karena di kapal pesiar (cruise ship) mereka terduga ada 2 penumpang dari Cina yang mungkin terjangkit virus Wuhan. Tetapi kemudian terbukti tidak menderita penyakit.
 
Yang membuat WHO kemudian menyatakan serangan Virus Wuhan ini sebagai kondisi darurat internasional adalah fakta bahwa kemarin (30 Januari) terjadi 38 kematian, tingkat kematian tertinggi dalam 24 jam. Sebuah peringatan atas seriusnya serangan Virus Wuhan ini.
 
Lalu bagaimana menghadapi dan mengatasinya?
 
WHO, negara-negara dunia, dan termasuk kita tentu masih optimis untuk mampu mengatasi Virus Wuhan.  ‘Mahluk’ tak kasat mata Virus Wuhan itu memang ‘ilmu’nya canggih. Dia sebenarnya hanya mengikuti ‘insting’ hukum alamnya (sunnatullah-nya) untuk ‘mempertahankan’ hidup (survival) dengan bermutasi dan menginfeksi tubuh hewan lalu ke manusia.  Pertanyaannya, mampukah ilmu kita manusia menghadapi dan mengatasi ‘ilmu si Virus’ ?
 
Optimisme kita tidak tanpa alasan. Manusia telah berhasil mengatasi beberapa serangan dari “saudara-saudara”nya Virus Wuhan. Kita relative berhasil mengatasi ‘ilmu’nya Virus SARS, Virus MERS, Virus H5N1 Flu Burung, Virus H1N1 Flu Babi, dan serangan lainnya. Ratusan pasien terkena Virus Wuhan juga sembuh. Dan sebagian besar penduduk yang dikarantina di Wuhan dan Hubei juga tetap sehat.  Ilmu manusia ternyata lebih canggih dari ‘ilmu keluarga virus’ itu.

Baca Lainnya : Dokter Hewan IPB University Lakukan Riset Kelelawar Sebagai Sumber Virus Corona, Ini Hasilnya
 
Dan kemampuan ilmu manusia itu tentu tidak ujug-ujug. Ilmu itu berkembang karena riset yang terus menerus, karena ada peneliti yang tekun berpikir dan melakukan percobaan dipojok-pojok sepi laboratorium, dan kemudian meneruskan ilmu dan pengetahuan nya pada kelas-kelas kuliah dengan pelajaran yang ‘susah’ dan ‘tidak populer’ dimata mahasiswa.  Pelajaran susah yang kalau dilihat dari perspektif pragmatis jangka pendek seperti tidak ada gunanya dan tidak ada yang akan “membeli”.
 
Dan kemudian situasi bisa berubah.  Dari kejadian serangan flu burung 10-15 tahun lalu, ternyata menyadarkan kita: betapa kurangnya Indonesia dengan profesi dan keahlian dokter hewan.  Rasio jumlah dokter hewan per jumlah penduduk dan per jumlah ternak sangat tidak memadai. Saat itu pendidikan kesehatan hewan tidak popular.
 
Atau ketika ilmu gizi, dalam konteks ilmu pangan dan gizi, juga terkesan tidak popular dan hanya untuk orang-orang yang “senang masak”. Tetapi kemudian timbul kesadaran baru bahwa asupan gizi dan gaya hidup baik adalah pangkal dari usaha mengatasi masalah kesehatan, setelah disadari 70% diantaranya berhubungan dengan kondisi degeneratif tubuh yang erat dengan gizi masyarakat, termasuk masalah-masalah stunting, obesitas, serangan jantung, diabetes, dan lain-lain.  Kemudian lalu disadari betapa kurang ahli-ahli dan ilmu-ilmu gizi dikembangkan di kampus-kampus.

Baca Lainnya : Wabah Virus Corona Dinyatakan Sebagai Keadaan Darurat Global oleh WHO
 
Kalau mau diperluas, bagaimana dengan ilmu budaya, sastra, atau filosofi? Ilmu-ilmu ‘sepi’ yang tidak popular. Atau ilmu-ilmu dasar seperti kimia, fisika, ke-antariksa-an, biologi, bio-kimia? Atau ilmu-ilmu tingkat lanjutan yang didalami dalam pendidikan doktoral bahkan pasca-doktoral? Ilmu-ilmu yang tidak serta merta ada keterkaitannya dengan dunia usaha dan pekerjaan saat ini; tetapi memiliki dampak bagi keberlanjutan peradaban manusia
 
Saat ini kita ditantang untuk mampu mengatasi “ilmu”nya Virus Corona Wuhan. Tanpa menjadi jumawa, kita yakin bisa, karena kita memang telah mengembangkan ilmu-ilmu ‘sepi’ yang seolah ‘tanpa prospek’ saat ‘Virus Mahkota’ itu belum merebak seperti sekarang.
 
Semoga Mas Menteri yang sedang membuat kebijakan “menggebrak” dunia pendidikan juga memberi perhatian dan dukungan bagi pendidikan dan pengembangan ilmu yang saat ini seperti sepi tidak berguna.  Jangan sampai peradaban kemanusiaan kelak jadi pecundang dalam keramaian masa depan karena kita lupa menghormati ‘jalan sepi’ masa kini.

TrubusOpini
Penulis : Bayu Krisnamurthi
Editor : Thomas Aquinus

Opini Lainnya

Syahroni 28 Agu 2020 17:04 WIB