OPINI: Alternative Tourism

OPINI: Alternative Tourism

Bambang Ismawan, Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya Foto : Istimewa 04 Mei 2019 09:28 WIB

Trubus.id -- Pada pertengahan dekade 1980 timbul kritik terhadap tourism yang semata mengejar kenikmatan dengan hotel dan obyek wisata serba mewah serta konsumeristis. Lalu muncul gagasan alternative tourism yang serba sebaliknya, dengan mengutamakan home stay, wisata alam, budaya lokal dan lain-lain.

Kemudian melalui berbagai diskusi disepakati pemahaman alternate in tourism yang melihat berbagai paket turis konvensional dan alternatif sebagai pilihan-pilihan yang dikombinasikan dan diracik dalam satu paket yang menarik, bermanfaat bagi masyarakat lokal dan mengedukasi para pengunjung. Di Bina Swadaya lahirlah konsep CEDEP.

CEDEP (Culture, Environment and Development Exposure Program) adalah program pendidikan dan penyadaran dengan melakukan kunjungan, melihat langsung bersentuhan dengan alam dan budaya serta berdialog dengan masyarakat setempat. Diharakan pendekatan ini akan timbulkan kesadaran terhadap kekayaan alam, hebatnya kearifan lokal, disamping keprihatinan akan kemiskinan yang menghimpit warganya. Kesadaran ini akan membangun motivasi dan komitmen untuk berkreasi kearah usaha-usaha perbaikan.

Pada 1987 Bina Swadaya mulai dengan memandu para Kepala Desa di beberapa Kecamatan di Jawa Tengah selama seminggu berkunjung ke sentra-sentra produksi pertanian, industri rumah tangga dan kerajinan di Jawa Barat serta berkunjung ke Toko Trubus di Cimanggis.

Disamping berdiskusi dengan para pengelola kegiatan diberbagai tempat, mereka juga berbincang dengan sesama Kepala Desa sepanjang perjalanan. Kunjungan ini mengahasilkan kesan dan minat kuat untuk mengembangkan upaya pemberdayaan di desa masing-masing serta mengembangkan jaringan kerja sama yang luas

Program awal yang bersifat lokal tersebut berkembang menjadi regional dan nasional bahkan internasional. Para mahasiswa dari Universitas Waseda Jepang di fasilitasi memahami masalah masyarakat di sekitar Waduk Kedung Omba, sejumlah pemuda dari Swedia di mendalami masalah lingkungan hidup di Kalimantan, memfasilitasi ekoturisme bagi para peminat dari Belanda dan Jerman ke Gunung Krakatau, adalah beberapa contoh kegiatan Bina Swadaya Tour (BST) yang pada 1993 diresmikan kelembagaannya sebagai Perseroan Terbatas (PT) dipimpin Sdr. Jarot Sumarwoto sebagai direktur.

Disamping memandu wisata, BST juga menyediakan fasilitas kendaraan wisata, melayani penjualan tiket udara, darat dan laut dan lain2. Tujuan wisata semakin bervariasi meliputi: Program pemberdayaan masyarkat di Garut, Taman Nasional ujung Kulon, Taman Nasional Baluran, Gunung Bromo, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup di Trawas, desa batik binaan Bina Swadaya di Bantul, kerajinan tangan Bali dan lain-lain. Sayang, krisis ekonomi 1998 yang diikuti dengan kerusuhan rasial dan rawan keamanan menyurutkan minat berwisata terutama dari mancanegara. Banyak rencana kunjungan wisata yang sudah dijadwalkan batal, dan rencana baru sulit wujudkan.

Sementara itu, menyimak pengalaman BST dan merespon permintaan pembaca, Majalah Trubus mulai 1994 mengadakan kegiatan Agro Tour untuk mengenal dan melihat secara langsung kebun-kebun produksi yang ditampilkan Majalah Trubus. Sering kali kebun-kebun produksi itu tidak dapat dikunjungi kecuali melalui akses Majalah Trubus.

Kalau BST banyak mengundang wisata dari manca negara datang ke Indonesia, Trubus dengan Agro Tour mengajak wisata dalam negeri belajar agribisnis di luar negeri. Sejumlah negara yang menjadi sasaran Trubus Agro Tour antara lain Thailand, Malaysia,Taiwan, China, Vietnam, Belanda, Israel, Australia dan New Zealand.

Kunjungan terbesar di Thailand dengan sejumlah tema diadakan sesuai dengan bulan; misalnya bulan Maret bertema Horti Asia Tour melihat pameran besar dan kunjungan ke kebun-kebun lengkeng, kelapa pandan wangi, pomelo organik dan jambu air; bulan Mei bertema kunjungan ke kebun durian dan mangga; bulan Agustus bertema kunjungan lengkeng dan kurma, bulan November dan Desember tema Fantastic Suan Luang Tour yang diadakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun Raja Bhumibol Adulyadej berupa pameran dan kompetisi tanaman hias di Suan Luang.

Sempat beberapa kali pindah Kantor dan mengalami pasang surut dalam perjalanan nya, BST kemudian diperkenalkan dengan brand TRUBUS TOUR untuk memanfaatkan branding majalah Trubus yang sukses di media penerbitan agrobisnis dan penyelenggaraan program wisata. Letjen. Suyono, dalam suatu pertemuan, menyampaikan pertanyaan surprise kepada saya, "Apa agenda TRUBUS TOUR yang akan datang?" Saya ganti, "Kok Jendral tahu?" ... "Ya, kan saya beberapa kali ikut TRUBUS TOUR" katanya.

Pada 2010, kembali dilakukan perombakan managemen PT Bina Swadaya Tour sebagai upaya penyehatan (recovery). Tetapi pada November 2012 Pengurus Yayasan Bina Swadaya selaku pemilik membekukan PT Bina Swadaya Tour karena keterbatasan tenaga pengelola dan program.

Selanjutnya, program-program tour terkait Agro dialihkan ke majalah Trubus dan program tour terkait CEDEP dikelola oleh Bina Swadaya Konsultan (BSK). Disamping wisata ke manca negara, Trubus mengembangkan tour domestik dengan destination unggulan di Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Sementara BSK mengembangkan tour kebencanaan di Gunung Merapi, tour mangrove di Kepulauan Seribu, tour pertanian di Sukoharjo, tour batik dan lurik di Klaten, tour konservasi lahan dan lingkungan di Sumedang, serta tour kerajinan kulit di Wukirsari (Bantul). BSK masih akan menggalakkan program CEDEP melalui strategi pemasaran yang efektif untuk peserta dari dalam dan luar negeri.  

 

Bambang Ismawan,

Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya

TrubusOpini
Penulis : Karmin Winarta
Editor : Karmin Winarta

Opini Lainnya

Karmin Winarta 04 Mei 2019 09:28 WIB

Karmin Winarta 30 Mar 2019 09:00 WIB

Karmin Winarta 24 Mar 2019 10:00 WIB