OPINI: Sehat Berkat Air Hujan  

OPINI: Sehat Berkat Air Hujan  

Bambang Ismawan, Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya Foto : Dok Yayasan Bina Swadaya 24 Mar 2019 10:00 WIB

Trubus.id -- Adalah Romo V. Kirdjito dari Muntilan yang sejak 2013 mengadakan riset eksperimental terhadap manfaat air hujan bagi kesehatan manusia, sehingga banyak orang terjaga kesehatannya karena minum air hujan yang telah diproses dengan ionisasi.

Dan karena ketekunan beliau yang berdampak luas  pada kesehatan masyarakat di wilayah Muntilan dan daerah-daerah lain, seperti komunitas H2Obe di sekitar Bekasi - Jakarta, komunitas Air Langit di Bali, komunitas Kandhang Udan sekitar Klaten - Yogya - Solo -  Muntilan, komunitas Omah Udan di Semarang,  komunitas "Uran Pa'kamasena Puang" di Toraja, mendorong Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) memilih beliau menjadi salah satu dari 72 Ikon Prestasi Indonesia dalam rangka memperingati hari kemerdekaan ke-72, tanggal 21 Agustus 2017.

Dalam forum 72 Ikon Prestasi Indonesia inilah saya bertemu Romo Kirdjito, kemudian semakin akrab berkomunikasi melalui WAG dan berlanjut dengan komunikasi langsung.  Romo Kir mengeluh wacana pengamalan Pancasila cenderung hanya dari sisi agama saja, seolah Pancasilais itu terbatas pada kerukunan beragama.  

Beliau merasa lebih menarik mengapresiasi etika, moral, tertib hukum dan sains-sains sederhana di masyarakat dan merujuk pada Buya Syafii Maarif membumikan ilmuwan langit.  Dalam komunikasi itu saya menerima tulisan-tulisan beliau yang dimuat di harian Kompas dan Koran Bernas Yogya, maupun draft buku yang akan diterbitkan.  

Yang terakhir ini  saya langsung kontak dengan Bu Yani Trisnawati, koordinator penerbit kita, guna menelaah kelayakan terbit buku tersebut di badan penerbit Bina Swadaya, dan ternyata Puspa Swara dan Trubus menyambut positif.

Mengapa air hujan?  Dalam artikel beliau di Koran Bernas edisi 2 April dibahas, bahwa air hujan adalah air suling alam, mendekati air murni, datang dari langit dengan ketinggian diatas 1.000 diatas permukaan laut. Langit itu bebas dari sampah padat, entah kotoran hewan, kotoran manusia, limbah pabrik dan sebagainya.

Ada asap kendaraan dan pabrik, tetapi begitu melayang diudara segera terurai dan netral. Air hujan sedikit kotor ketika jatuh diatap rumah. Tetapi atap rumah di manapun tidak menjadi tempat sampah. Sampah selalu dibuang di tanah yang digali, kemudian meresap dalam tanah ketika hujan turun, jumlah dan jenis sampah jauh lebih banyak. Akibatnya tentu mempengaruhi kualitas air dalam tanah.

Air bersih dari langit berikut sentuhan inovatif sederhana, - bahasa kerakyatannya disetrum, -kemudian dikonsumsi menjadi air minum, sangat berperan dalam proses metabolisme membentuk darah yang bersih. Darah yang bersih sangat berpengaruh pada tingkat kesehatan dan stamina.  Demikian penjelasan Romo Kirdjito.

Salah satu tulisan Romo Kir yang menggugah saya adalah kisah "Keluarga Alex dan Mukjizat Air Hujan" (di Koran Bernas, 10 April 2018).  Suatu kisah keluarga petani di dusun Gemer, desa Argomulyo, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang yang istri dan anak-anaknya sakit-sakitan dan tergantung obat dokter, berubah menjadi sehat setelah mengkonsumsi air hujan yang diionisasi sendiri oleh Pak Alex Kusnadi.  

Informasi ini mencuat di tengah berita di Afrika Selatan terjadi krisis air minum sementara Indonesia yang dilanda banjir dimana-mana juga mengalami kesulitan air bersih. Wah .., kalau kabar dari Magelang itu benar akan merupakan peluang besar untuk kesehatan kita di Bina Swadaya dan masyarakat yang kita berdayakan di daerah-daerah yang mengalami kesulitan air minum.

Kemudian setelah dibahas cepat di Bina Swadaya dan dengan Romo Kirdjito, maka terjadilah lokakarya pelatihan khusus bagi Bina Swadaya (8 orang) dari BSK dan majalah Trubus.

Walau dipahami bahwa air yang dimaksud tidak untuk mengobati orang sakit, namun pengalaman teman-teman Bina Swadaya dalam lokakarya pelatihan memberikan kesaksian yang sama. Mereka merasa tetap fit dan entusias berkonsentrasi mengikuti kegiatan lokakarya 9 jam non stop (kecuali makan) berkat minum air bersih yang telah terionisasi selama lokakarya berlangsung.

Bahkan Mas Siwi yang hampir tidak ikut karena kurang sehat, suaranya hampir hilang, hidung meler, tenggorokan gatal dan batuk-batuk, setelah minum air elektrolit merasa lebih fit dan tahan berpartisipasi sampai akhir acara. "Bahkan saya dan Mas Ari (Primantoro) heran, karena biasanya sore hari setelah intens mendengarkan atau diskusi, biasanya teler, loyo sudah. Tapi air dari Romo seperti setrum yang mengisi baterai energi dalam tubuh.  Luar biasa, menurut saya ini bermanfaat untuk orang banyak, sehingga harus diberitakan, disebarkan."  Demikian dijelaskan Siwi Kristianto.

Dalam waktu dekat akan diundang komunitas Bina Swadaya untuk mendengarkan pengalaman teman-teman yang telah mengikuti lokakarya tentang air sehat dan memanfaatkannya sesuai kebutuhan serta menyebarluaskan pengetahuan ini kepada mereka yang membutuhkan.

Bambang Ismawan,

Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya

TrubusOpini
Penulis : Karmin Winarta
Editor : Karmin Winarta

Opini Lainnya

Karmin Winarta 04 Mei 2019 09:28 WIB

Karmin Winarta 30 Mar 2019 09:00 WIB

Karmin Winarta 24 Mar 2019 10:00 WIB