OPINI: Panggilan Hidup sebagai Pemberdaya

OPINI: Panggilan Hidup sebagai Pemberdaya

Bambang Ismawan, Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya Foto : Istimewa 09 Mar 2019 13:00 WIB

Trubus.id -- "Apa yang bikin Pak Bambang betah tetap aktif di Bina Swadaya?" Demikian tergur sapa His Excellency Abdullah Syarwani, Duta Besar Indonesia di Lebanon dengan nada heran, saat bertemu pada pertengahan 2007.  Bung Syarwani adalah pegiat LSM, mula-mula di LP3ES kemudian di P3M (Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) lalu di Bina Desa.

Dan di Bina Desa inilah kami sama-sama aktif dalam kepengurusan. Waktu itu jati diri LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) kita pahami terdiri dari 3 strata, strata pertama disebut KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat), yaitu sekumpulan orang yang mendirikan organisasi untuk bersama-sama menolong diri sendiri (self help).

Strata kedua adalah LPSM (Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat) yaitu suatu lembaga yang didirikan untuk menolong yang lain (facilitating Institution). Strata ketiga adalah LSM Jaringan yang merupakan kolaborasi dari sejumlah LPSM yang fokus pada bidang kegiatan tertentu: pembangunan perdesaan, perkotaan, lingkungan hidup, konsumen, bantuan hukum dan lain-lain. Bina Swadaya termasuk LSM strata kedua, sedang Bina Desa termasuk LSM strata ketiga.

Aktif di LSM pada strata ketiga ini memposisikan diri untuk menampung isu-isu pembangunan dan memperjuangkan kebijakan-kebijakan yang memihak rakyat kecil (advokasi). Pada tataran ini, para pegiat advokasi sangat dekat dengan sektor regulasi, sektor publik dan ketika rezim Orde Baru tumbang sistem politik bergerak kearah lebih demokrasi dan desentralisasi.

Pada era pemerintahan Presiden Gus Dur banyak memberi peluang pegiat LSM Advokasi terjun ke dunia politik dan Bung Abdullah Syarwani diangkat menjadi Duta Besar RI di Lebanon (2003 - 2007).

Pertanyaan Bung Syarwani yang disampaikan dengan raut muka serius dan penuh keheranan itu, saya terima dengan perasaan heran juga. Karena saya merasa happy-happy saja selama ini. Banyak masalah dalam perjalanan peziarahan Bina Swadaya, namun bisa diselesaikan, dan hasilnya dipakai sebagai modal untuk menyelesaikan masalah berikutnya, dan enjoy-enjoy saja.

Mungkin sekitar 51 tahun yang lalu (1967) juga banyak yang heran. Waktu itu selaku ketua Ikatan Petani Pancasila (IPP) yang beranggotakan lebih dari 1.100.000 orang (1964), saya ditawari untuk menjadi anggota DPR, tapi saya menolak karena komitmen untuk mengembangkan keberdayaan petani secara langsung adalah prioritas yang membutuhkan energi perhatian dan alokasi waktu yang banyak dan penuh.

Untuk tidak mengecewakan yang menawarkan, saya usulkan 5 orang pengganti agar dipilih, dan yang aneh kelimanya diterima dan diangkat menjadi anggota DPR! Mereka itu adalah Wakil Ketua, Sekjen, 2 orang Anggota DPP dan seorang Ketua DPD.  IPP kehilangan besar waktu itu.

10 tahun berikutnya, oleh Sekjen. GOLKAR waktu itu, saya ditawari menjadi calon anggota DPR dan ikut Pemilu 1977. Sayapun menolak karena setelah IPP bergabung dalam HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), Yayasan Bina Swadaya sebagai penerus IPP dengan pedekatan baru, perlu lebih serius berbenah dan perlu dukungan semangat dan energi yang banyak.

Dalam perjalanan waktu, rupanya itu bukan tawaran terakhir. 10 tahun kemudian yaitu pada 1987, Bapak Supardjo Roestam (alm.) Menteri Dalam Negeri waktu itu, mengatakan: "Saatnya dik Bambang bergabung jadi CALEG (calon anggota legislatif)".

Dengan santai saya jawab: "Yang ingin jadi CALEG itu banyak, dan yang lebih pintar dari saya juga banyak, tapi yang mau bekerja seperti saya ini tidak banyak, maka mohon ijin untuk tetap berkarya di Bina Swadaya". Pak Pardjo pun masih menawar "bagaimana kalau mewakili Indonesia menjadi Direktur CIRDAP (Center for Integrated Rural Development Asia Pasific) berkedudukan di Dhaka, ibukota Bangladesh?" Waduh ..., di luar negeri, yang penting kan di dalam negeri, dan sayapun menolak tawaran itu.

Banyak teman heran dan menilai salah atau bodoh terhadap sikap yang saya gambarkan diatas. Bukankah itu tawaran yang sangat baik untuk kedudukan, karier, income dan sebagainya? Tetapi saya tetap tidak merasa keliru mengambil putusan itu, dan tidak pernah menyesal, bahkan bersyukur telah mengambil putusan seperti itu. Meskipun demikian, saya sendiri merasa heran juga mengapa tiada keraguan terhadap putusan-putusan yang telah saya ambil.

Mungkin dialog saya dengan Pater Dijkstra berikut juga mengherankan. Saya bertemu Pater Dijkstra pertama kali pada tahun 1962 dan bergabung dalam Gerakan Sosial Ekonomi Pancasia yang beliau pimpin pada 1963, waktu saya masih mahasiswa dari Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Sejak itu beliau menjadi pemimpin dan penasihat moral saya yang selalu akrab. Pada suatu perjumpaan pada 1987, yaitu 25 tahun setelah bertemu pertama, berdua kami ngobrol santai, dan tiba-tiba beliau bertanya: "Kamu bekerja memberdayakan masyarakat kecil selama ini atas permintaan siapa?" Sambil berbincang-bincang, pertanyaan itu diulang 3 kali dan jawab saya sama, yaitu: "Atas kemauan saya sendiri". Memang Pater Dijkstra telah menginspirasi, tetapi komitmen itu atas kemauan saya sendiri.

Peristiwa-peristiwa tersebut sering menjadi pertanyaan pada diri sendiri yang selalu dicari jawabannya. Jawaban menjadi jelas ketika akrab dengan Arvan Pradiansyah, a happiness inspirer, yang saya dengar talk show nya di radio Smart FM setiap Jumat pagi, yang saya ikuti workshop-workshop nya serta baca buku-buku karyanya. Dalam buku nya I Love Manday dibahas bahwa manusia diciptakan Tuhan untuk bekerja.

Dan bekerja itu mempunyai 3 level, pertama ketika manusia bekerja dengan dipimpin oleh seorang pimpinan/direktur/sutradara dan pada akhir bulan menerima gaji, itu namanya job. Level kedua adalah bekerja dengan pemimpinnya diri sendiri, hasilnya adalah sukses dan berkembangnya karier. Level tiga dari bekerja itu adalah panggilan, yaitu bekerja dengan pimpinan yang diatas, yaitu Tuhan.

Kehendak Tuhan bagi kita masing-masing berbeda-beda, namun bisa di pahami melalui 4 hal: talent (bakat), passion (kegemaran, semangat), value (nilai-nilai dari keluarga, sekolah, masyarakat, agama dll), dan legacy (warisan, harta pusaka, peninggalan) dari masing-masing. Menghayati bekerja atas dasar panggilan itu akan menuai sukses dan bahagia.

Referensi dari Arvan Pradiansyah tersebut, membantu saya menyimpulkan perjalanan hidup yang kita hayati bersama di Bina Swadaya, yang secara pribadi saya mulai sejak 1963 dan secara konsisten dihayati sampai hari ini (55 tahun tanpa terputus) adalah panggilan hidup yang saya terima dengan penuh syukur dan tanggung jawab, maka selalu merasa bahagia dan sukses.

Setiap orang mempunyai panggilan hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda seorang dari yang lain. Menemukan panggilan hidup itu adalah tugas setiap orang, dan akan lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan orang banyak kalau dapat menemukannya sedini mungkin.

Bambang Ismawan,

Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya

TrubusOpini
Penulis : Karmin Winarta
Editor : Karmin Winarta

Opini Lainnya

Karmin Winarta 04 Mei 2019 09:28 WIB

Karmin Winarta 30 Mar 2019 09:00 WIB

Karmin Winarta 24 Mar 2019 10:00 WIB