OPINI: Spiritual, Sosial dan Intelektual, Modal Dasar Bina Swadaya

OPINI: Spiritual, Sosial dan Intelektual, Modal Dasar Bina Swadaya

Bambang Ismawan, Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya Foto : Istimewa 05 Mar 2019 14:00 WIB

Trubus.id -- Pada awal tahun 2016 Bapak Anthony Salim datang ke Wisma Hijau, memperkenalkan diri dan mengajak kerjasama Salim Group dengan Bina Swadaya. "Kita bentuk suatu badan kerjasama, Pak Bambang jadi ketua dan saya wakilnya," begitu kata beliau. 

Pengurus dan staf Bina Swadaya yang hadir dalam pertemuan itu terkejut dengan pernyataan Pak Anthony, sangat menggembirakan ajakan itu, tetapi pada waktu itu tidak bisa mengusulkan bidang dan bentuk kerjasama Bina Swadaya dan Salim Group.

Kesulitan Bina Swadaya mengajukan usulan kerjasama secara konkrit antara kedua kelompok organisasi tersebut terkait latarbelakang, sifat dan tujuan organisasi masing-masing. Salim Group adalah holding company yang bergerak dibidang bisnis dengan tujuan memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.

Sementara Bina Swadaya adalah sebuah Yayasan yang bergerak dibidang pembangunan sosial yang mengupayakan kemandirian finansial sebagai strategi untuk keberlanjutan karya. Setelah membahas berbagai masalah dan kesempatan, pertemuan itu menyepakati agar masing-masing memikirkan bentuk kerjasama yang akan dibicarakan pada pertemuan berikutnya.

Ajakan kerjasama dari Salim Group itu selama beberapa hari menjadi bahan bahasan Organ Yayasan Bina Swadaya. Yang terang Bina Swadaya tidak pada posisi siap bekerjasama di bidang bisnis, tetapi amat siap dibidang pembangunan sosial, dan baru kemudian merambah bisnis yang berbasis masyarakat.

Kebetulan waktu itu Bina Swadaya sedang menangani proyek pemberdayaan masyarakat desa di Kabupaten Batang, maka pada pertemuan berikut Bina Swadaya mengusulkan kerjasama dengan Salim Group dibidang pembangunan sosial, dan masing-masing berkontribusi di bidang kemampuannya.

Salim Group sangat berkemampuan berkontribusi di bidang keuangan, sementara Bina Swadaya mempunyai pengalaman dan keahlian di bidang pembangunan sosial, karena telah berkarya dibidang itu sekitar 50 tahun.

Usulan tersebut disetujui oleh Bapak Anthony Salim, dan proyek pemberdayaan masyarakat desa di Kabupaten Batang pun berlangsung lancar sejak April 2016 - Februari 2018.  Dalam proses penyelenggaraan proyek tersebut Bina Swadaya berkesempatan menkonstruksikan sebagai Gerakan Revitalisasi Desa (GRD) yang secara konseptual berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan: mengapa, apa, bagaimana dan oleh siapa program pemberdayaan diselenggarakan.

Pada tahap ini program di Batang melalui berbagai sosialisasi kepada Pemerintah Kabupaten, Kecamatan dan Desa, serta masyarakat warga telah berhasil di bentuk 100 KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) yang beranggotakan 2.000 keluarga, 7 KSU (Koperasi Serba Usaha), 10 BUMDesa (Badan Usaha Milik Desa), di 9 Kecamatan dari 15 Kecamatan yang ada.  Capaian ini mengindikasikan telah tersusunnya kerangka Desa Mandiri, tahap berikutnya ingin dikembangkan kearah Desa Maju. Lebih lanjut GRD siap direplikasikan ke Kabupaten-Kabupaten lain di seluruh Indonesia, untuk mewujudkan Pembangunan Desa Inklusif, no one left behind.

Kami menengarai kerjasama Bina Swadaya dengan Salim Group telah berhasil secara signifikan, tidak hanya bermanfaat bagi Kabupaten Batang sendiri, tetapi yang juga berprospek mengefektifkan pembangunan dari pinggiran di desa-desa seluruh Indonesia mewujudkan Desa Mandiri dan Maju seturut Undang-Undang Desa No 6/2014.  Sukses yang telah diraih ini karena tepatnya pilihan modal yang dikerjasamakan oleh para pihak, yaitu modal sosial dan modal finansial.

Terkait modal dasar, Prof. Dr. I Gede Raka dari Institut Teknologi Bandung (2013) lebih lanjut menyatakan bahwa setelah melalui perjalanan waktu puluhan tahun Bina Swadaya mempunyai 3 modal dasar yaitu: modal spiritual yang mencakup bela rasa dan integritas, modal sosial meliputi networking dan trust, serta modal intelektual berupa berbagai pengetahuan yang tersimpan dalam majalah bulanan Trubus (selama hampir 50 tahun), buku-buku yang kita terbitkan (lebih dari 5.000 judul), keterlibatan dalam berbagai studi, seminar, workshop dan sejumlah laporan refleksi dari berbagai proyek yang kita kelola.

Semuanya harus kita kapitalisasi menjadi kekuatan yang bermanfaat untuk mengatasi masalah-masalah, serta untuk mewujudkan dampak lebih besar bagi peningkatan keberdayaan masyarakat secara kontekstual.

Untuk menutup uraian ini, kiranya relevan mengutip ungkapan Pak Frans Seda (alm) seperti yang dikemukakan Pak Frans Parera dalam suatu pertemuan PERSAB (Perhimpunan Sahabat Bangun) FOBLAMORA (Flores, Sumba, Timor, Alor dan pulau lain di NTT) baru-baru ini: "Jangan membangun lembaga untuk mencari duit, tetapi bangunlah lembaga  yang dicari oleh duit".

Bambang Ismawan

Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya

 

TrubusOpini
Penulis : Karmin Winarta
Editor : Karmin Winarta

Opini Lainnya

Karmin Winarta 04 Mei 2019 09:28 WIB

Karmin Winarta 30 Mar 2019 09:00 WIB

Karmin Winarta 24 Mar 2019 10:00 WIB