OPINI: Sejarah dan Faedah Pohon Gayam sebagai Identitas Wilayah

OPINI: Sejarah dan Faedah Pohon Gayam sebagai Identitas Wilayah

Gayam Foto : Istimewa 02 Mar 2019 11:00 WIB

Trubus.id -- “Pak, ayo ke rumah eyang Gayam,” rengek anak saya, petang itu. Saban akhir pekan, keluarga kecil kami bertandang ke rumah orangtua istri saya di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Gayam bukanlah nama mertua saya, melainkan nama kampung, tempat mertua bercokol. Merujuk toponim alias asal-usul penamaan daerah, nama pohon gayam dicomot untuk identitas kampung oleh masyarakat setempat di masa silam.

Di Nusantara, nama pohon ini rupanya banyak diabadikan untuk nama daerah. Sebut saja, Gayam (Bondowoso, Pasuruan, Mojokerto, Kediri, Yogyakarta), Kaligayam (Klaten), Sendanggayam (Blora), Gayamsari (Semarang), Gayamharjo (Sleman) dan lainnya. Bahkan, ditetapkan pula sebagai flora identitas Kota Cirebon dan Kabupaten Bojonegoro.

Riwayat kemunculan gayam terselip dalam cerita pewayangan. “Sadaya lembu punika turunipun Dèwi Rohini, sato bangsaning kapal punika turunipun Dewi Gandarwi. Dèwi Anala anurunakên wiwitan warni pitu, ingkang wohipun mawi raos sêpêt, kados ta: arèn, siwalan, hintila, tali kurma, gayam, tuwin klapa,” ujar sang dalang.

Terjemahan bebasnya: semua sapi itu keturunan Dewi Rohini, hewan sebangsa kuda merupakan keturunan Dewi Gandarwi. Dewi Anala menurunkan pepohonan 7 jenis, yang rasa buahnya agak pahit. Yakni, aren, siwalan, hintila, tali kurma, gayam, dan kelapa.

Pohon gayam (inocarpus fagiftrus) berciri-ciri batangnya keras dan kuat. Diameter batang mencapai 60-70 cm, dan tingginya bisa mencapai 25 m. Semula, gayam tumbuh sendiri tanpa dibudidayakan di daerah berawa atau bibir sungai pada dataran rendah tropis yang lembab hingga ketinggian 600 meter dpl. Akarnya kokoh sehingga mampu mencegah kelongsoran, erosi, serta menampung cadangan air tanah dari kawasan sekitarnya.

Selain itu, sanggup menyerap polusi udara dan debu lantaran tekstur daunnya tebal, lebar, serta mahkotanya merimbun. Dimanfaatkan pula untuk bahan kerajinan rumah tangga, semisal meja-kursi. Kedekatan wong Jawa dengan gayam tak terelakkan karena buah gayam dapat diolah menjadi keripik yang rasanya enak serta gurih. Buahnya dikukus terlebih dahulu.

Kelampauan budidaya gayam terlacak lewat naskah anggitan Prawirasudira bertajuk Pakem Tarugana (1913). Pustaka lawas ini terbit pada dekade kedua abad XX sebagai panduan priayi-bangsawan atau kelompok melek literasi tatkala berniat membangun lingkungan hijau. Gayam yang ditanam, buahnya belum dipecah cangkangnya. Kita tanpa perlu pusing memilih jenis tanah, sebab tanah becek atau agak basah tetap bisa tumbuh.

Tidak dianjurkan menanam dalam jarak dekat mengingat pohonnya besar serta tinggi. Sebaiknya, gayam ditanam dalam jarak tiga cengkal (3,75 meter atau 12 kaki) persegi. Jika menanamnya selarik saja, bisa kurang dari 3 cengkal jauhnya. Dijelaskan, usia tanam hingga berbuah kira-kira sekitar 7 tahun.

Bila berhasil tumbuh, bisa berumur seabad lebih. Gayam termasuk wowohan (buah) yang gampang pengolahannya. Demikian pula sukun, asal baru dipanen dan dikupas, lantas digoreng atau direbus. Selepas matang, enak untuk disantap.

Bukan hanya dinikmati wong cilik, buah gayam menjadi salah satu menu camilan keluarga aristokrat dan orang Eropa sebagaimana disuratkan dalam Babad Giyanti. Adipati Puger mempersilakan tamu residen Belanda menyantap semangka, duren, dan mundu yang diwadahi bokor salaka.

Tersaji pula jeruk, jambu, salak, kembili, uwi, dan melinjo gayam ditaruh di bokor kencana. Malam hari, digelar pesta makan bersama para bupati. Sebelum pulang ke Semarang, tamu menginap di Sukawati (Sragen). Kehadiran buah gayam dalam peristiwa agung itu membuktikan gayam berhasil melibas sekat sosial dan etnis.

Serat Centhini yang disusun pujangga Keraton Kasunanan tahun 1814-1823 dengan mengitari pulau Jawa juga mendapati pohon gayam. Diceritakan kahanan sebuah desa yang cantik memakai metafor. Pena pujangga melukiskan air yang memancar merupakan puncak kejernihan, seolah turun dari kahyangan. Alirannya menyasar ke pedusunan tanpa halangan, seperti sang raja sudah menitahkannya.

Sementara Hyang Arka alias mentari telah turun gunung. Terlihat sang petapa atau pengembara mandeg di bawah pohon gayam di luar gerbang. Di situ, dijumpai sendang untuk mengaso. Sendang dikelilingi pohon gayam, tempat yang lumrah dipakai perempuan dan warga lainnya tatkala membersihkan diri sehabis dari tegalan.

Pelukisan juru tulis istana itu menuduhkan gayam sedari lama difungsikan sebagai pohon peneduh atau perindang lingkungan. Orang yang lelana atawa berkelana leluasa mampir beberapa jenak di bawah pohon guna beristirahat, menikmati kesejukan alam hijau, serta menghirup oksigen yang dihasilkan pohon gayam. Fakta lainnya, keberadaan gayam mengitari sendang menegaskan akar pohon berfaedah menyimpan cadangan air.

Sendang maupun batu besar yang dimaknai sebagai pedayangan atau cikal bakal kampung dipayungi pohon gayam. Kisah unik itu direkam Jasawidagda dalam buku Bocah Mangkunegaran (1937). Masyarakat lokal melihat gayam sewaktu mengadakan kondangan atau memanjatkan doa di pedayangan disertai sesaji nasi lembaran, nasi golong, dan hasil pepanenan. Di bawah pohon gayam, pak modin memimpin doa untuk keselamatan bersama.

Siapa sangka, gayam dipakai untuk tengara atau pertanda akan terjadinya suatu peristiwa dalam jagad agraris. Realitas ini tertuang dalam Babad Alit II: Jumênêngipun Cungkup Ing Pasarean Kuthagêdhe anggitan Prawirawinarsa (1921): “Ingkang Sinuhun Karta nanêm gayam wontên ing dhusun Lipura bawah Ngayogya, yèn wit gayam wau ngantos sêkar, punika dados pratôndha manawi para among tani badhe botên kawêdalan tanêmanipun.”

Terjemahan bebasnya: Sinuhun Karta (Amangkurat I) menanam bibit pohon gayam di Desa Lipura yang masuk wilayah administratif Yogyakarta. Pohon gayam yang tumbuh bunganya dijadikan tengara para among tani (petani) bahwa tanaman mereka tidak tumbuh.

Dari kilas balik ini, kita disadarkan bahwa gayam bukan pohon sembarangan. Ia memiliki riwayat panjang dan tercatat sejak era Hindu dengan bukti epos Mahabarata. Tidak hanya sebagai penjaga lingkungan dan identitas daerah, namun juga berfaedah bagi umat manusia. Sayangnya, keberadaan gayam di Jawa kian langka.

Kini, pembudidayaannya kalah bersaing dengan tumbuhan lain yang dinilai lebih bermanfaat menurut pandangan pemegang kekuasaan di tingkat daerah. Jejaknya tinggal toponim kampung. Padahal, di mata orang Jawa, gayam sering dimaknai gayuh qyem yang mengandung arti: menggapai kedamaian atau ketenangan hidup. Alangkah baiknya pemerintah lokal kembali menggalakkan penanaman pohon gayam sebagai bukti sadar sejarah, merawat lingkungan hijau, serta merengkuh harapan kedamaian hidup.

 

Heri Priyatmoko

Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma

Founder Solo Societeit

TrubusOpini
Penulis : Karmin Winarta
Editor : Karmin Winarta

Opini Lainnya

Karmin Winarta 04 Mei 2019 09:28 WIB

Karmin Winarta 30 Mar 2019 09:00 WIB

Karmin Winarta 24 Mar 2019 10:00 WIB