Unicorn dan Kisah Kuda di Kampung Jokowi

Unicorn dan Kisah Kuda di Kampung Jokowi

Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Foto : Istimewa 23 Feb 2019 07:00 WIB

Trubus.id -- Dalam debat capres kemarin, mencuat istilah “unicorn” yang mengundang gelak tawa. Warganet lekas merespon dengan mengunggah foto kuda di media sosial dalam suasana guyonan. Peristiwa tersebut menunjukkan relasi kita dengan kuda dalam ruang imajinasi.

Kuda merupakan simbol penting bagi kehidupan manusia Jawa klasik. Selain wanita (istri), kulilo (burung), wisma (rumah), dan curigo (keris), syarat menjadi lelaki sempurna ialah perlu memiliki turangga (kuda). Dalam khazanah budaya Jawa, binatang ini disebut kapal.

Sedangkan istilah “swa” mengandung arti jaran kinasih alias kuda kesayangan. Lazim saban bangsawan punya kuda lebih dari satu sebagai tunggangan maupun penarik kereta. Hewan ini ditaruh di kandang atawa pagedogan. Di lingkungan Mangkunegaran, kandang kuda dinamakan kestal. Kini, lokasi itu menjadi kampung Kestalan.

Periode Solo tempo doeloe merekam cerita kuda dalam kehidupan aristokrat. Paku Buwana X (1893-1939) yang berjuluk “kaisar Jawa” ini sering bepergian menyambangi rakyat hingga pelosok desa. Sembari menyebar udik-udik (uang) dan merawat relasi gusti-kawula, penguasa terkaya di istana Kasunanan itu naik kereta kuda.

Tampak rombongan pangeran bersama prajurit mengiringi dari belakang dengan naik kuda. Penduduk yang dilewati iring-iringan ini membuat pagar betis di bibir jalan. Mereka berniat bersemuka dengan junjungannya dan terkagum menyaksikan kuda teji milik kerajaan.

Sementara itu, kuda tunggangan Gusti Mangkunegara VII (1916-1944) saat mider praja juga kuat dan gagah. Blusukan dengan berkuda menemui para kawula di kampung lor, sebutan untuk daerah kekuasaan kota Mangkunegaran, merupakan cara jitu memotret persoalan riil di lapangan.

Pola ini diam-diam ditiru Pak Jokowi sewaktu menjabat Walikota Solo. Berkuda demi memahami masalah di tingkat akar rumput, sampai perkara selokan atau kalen tak luput diamati. Buahnya, Mangkunegara VII memperoleh predikat “Mangkunegara Kalen” sebagai bentuk kedekatan pemimpin bersama rakyatnya.

Sebubar diajak berkeliling, kuda dikembalikan ke kandang dan diurusi abdi dalem pekatik. Tugas yang dipikul pekatik adalah memastikan kondisi kuda majikannya sehat dan tak kekurangan rumput, di samping membersihkan pagedogan supaya kuda nyaman. Ada petugas lain yang diminta ngarit alias mencarikan rumput untuk santapan kuda. Mereka siap terkena semprit jika kuda istana kurus. Orang yang dislentak (ditendang) kuda PB X akan pingsan. Cerita ini bukan omong kosong mengingat turangga raja memperoleh perawatan istimewa dari pekatik dan kuda pilihan.

Dari sekian pembesar kerajaan, hanya PB X yang kondang sebagai raja penyayang kuda dan binatang lainnya. Pustaka Sekar Wijayakusama menyediakan bukti historis ingon-ingon (peliharaan) kesayangan raja seperti kuda dan perkutut yang telah mati saja diperlakukan sebaik mungkin. Dibungkus mori, ditaburi bunga, dan dimasukkan ke kotak, kemudian dimakamkan di kuburan Ndayung, Tanjung Anom.

Semula, kawasan ini untuk mengubur satwa yang hidup di area keraton. Tumbuh keyakinan, binatang kesayangan penggede istana punya kekuatan magis. Ia pun tidak boleh disia-siakan, sekalipun sudah tak bernyawa. Sampai detik ini, warga yang bercokol di sekitar Ndayung menyimpan rimbunan kisah mistis hantu binatang keraton.

Hubungan antara kuda dan bangsawan laksana gigi dan gusi. Saking eratnya, lahir kisah menggelikan sewaktu PB X membeli mobil tahun 1894. Setahun persis selepas dinobatkan sebagai nahkoda Kerajaan Kasunanan, PB X merogoh kocek sebesar f. 10.000 untuk membayar mobil dari luar negeri.

Bentuk mobil “Benz-auto” ini mirip andong atau kereta yang mengangkut kaum aristokrat Eropa. Kendaraan roda empat berhasil membuat masyarakat terheran. Sebab, warga sehari-hari memergoki PB X bepergian dengan berkuda atau naik kereta kuda, kali ini mengendarai mobil bermesin. Lantaran mobil masih dianggap barang asing, rakyat menamainya “kereta setan”. “Jalaran bisa mlaku tanpa ditarik jaran,” ungkapnya bergidik.

Meski harganya tak murah dan butuh perawatan ekstra, kuda tetap digandrungi. Bahkan, tidak cuma kalangan darah biru yang senang berkuda. Tempo itu, persewaan kuda merebak di telatah Solo guna melayani tamu luar kota atau wisatawan yang hendak plesiran. Timbul persoalan tatkala penyewa kereta menginginkan masuk ke kompleks luar keraton tetap mengendarai kuda dan ngebut di jalanan kota maupun melewati pelengkung (gapura).

Tindakan ini dipandang kurang ajar mengingat kawasan tersebut bukanlah daerah umum. Demikian pula berkuda di jalan berkecepatan tinggi akan membahayakan pengguna jalan lainnya. Raja gegas memanggil Patih Sasradiningrat IV untuk seba (menghadap) ke istana. Sinuhun menitahkan patih menyusun pranatan (aturan) dengan persetujuan tuan residen.

Orang naik kuda maupun juragan yang menyewakan kereta kuda kudu menyimak regulasi ini. “Ora kêna wong kang nunggang kareta utawa nunggang jaran diplayokake luwih saka jojog alon utawa congklang alon. Manawa liwat saantaraning hèk, saantaraning palêngkung utawa galèdhègan, apadene liwat ing karêtêg, iku kudu lumaku rindhik,” tulisnya.

Di sisi selatan gapura Gladag, dijumpai bangsal pakapalan. Merujuk toponimnya, lokasi ini dulu dipakai sebagai tempat pemberhentian kuda sewaktu tamu berkunjung ke keraton. Penggal fakta ini menegaskan pula orang dilarang naik kuda melewati alun-alun, kecuali raja bersama kerabatnya.

Demikianlah, kuda merupakan satwa yang lekat dan memperoleh tempat di hati kaum darah biru. Kuda juga bagian dari gengsi sosial dan ukuran kekayaan. Pesan historis dari kisah turangga di atas ialah binatang kuda mengawani manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Maka, sebagaimana keteladanan PB X, kuda layaknya dikasihi. Kita kian sadar, kuda hidup bersama para elit kerajaan, mestinya tak dibiarkan dalam kebisuan sejarah. Kudu digelarkan panggung bersama pembesar keraton.

Kuda bukan hanya hewan bertenaga kuat, tapi juga menyumbang lahirnya toponim kampung. Tak hanya urusan pengembangbiakkan, namun juga tersekam nilai kemanusiaan pekatik dan majikan hingga muncul terminologi “swa”. Bukan hanya soal kemewahan, melainkan lambang sebuah zaman jua.

Heri Priyatmoko

Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma

Founder Solo Societeit

TrubusOpini
Penulis : Heri Priyatmoko
Editor : Karmin Winarta

Opini Lainnya

Karmin Winarta 04 Mei 2019 09:28 WIB

Karmin Winarta 30 Mar 2019 09:00 WIB

Karmin Winarta 24 Mar 2019 10:00 WIB