OPINI: Filosofi Ringin Kurung

OPINI: Filosofi Ringin Kurung

Beringin kembar di alun-alun kidul Yogya. Foto : Hello-Pet 02 Feb 2019 17:00 WIB

Trubus.id -- Angin sore berhembus menyegarkan. Sinar mentari tersapu mendung. Segelintir orang yang nglaras di bawah pohon beringin di alun-alun utara Surakarta itu emoh beranjak. Tampak pula puluhan burung emprit dalam keheningan mencok di dahan uwit ringin guna mengistirahatkan kepak sayap, sekaligus menandakan hari bersalin petang. Dalam situasi ini, kesakralan pohon tua tersebut begitu terasa.

Sepasang pohon bernama latin Ficus benyamina ini dipasangi pembatas pagar. Dialah penjaga ingatan dan merekam peristiwa. Perhelatan akbar perpindahan ibukota Kerajaan Kartasura ke Desa Sala tahun 1745 membawa iring beringin kecil. Berlaku juga di kalangan keluarga raja Eropa, dijumpai tradisi menanam pohon oak tatkala lahir bayi pangeran. Pohon kelapa ditanam wong Jawa di sekitar rumah saat berlangsung acara pernikahan.

Pohon beringin di sisi timur, oleh penguasa istana tertua pewaris dinasti Mataram Islam disematkan nama Jayadaru membungkus makna kemenangan. Lantas, di sisi barat dinamakan Dewandaru mengandung maksud keluhuran. Di balik keteduhannya, ringin kembar pamerkan kekokohan menghadapi laju waktu. Ia tak lapuk digerogoti perubahan zaman. Beda dengan pemiliknya, bangsawan keraton, gagal menahan revolusi sosial yang berujung pada ambruknya kekuasaan feodal.

Dalam filsafat Jawa warisan leluhur, beringin melambangkan langit dan pasir halus yang menutupi pelataran kala itu melambangkan bumi. Ringin kurung yang berakar kuat dipahami sebagai lambang pengayom. Kedua unsur itu jika digabung menyediakan pitutur supaya manusia merawat harmoni alam, bukan memperkosanya demi memenuhi nafsu serakah, tanpa menggubris ancaman bencana. 

Secara teoritis, lingkungan keraton (tradisi besar) yang melek pengetahuan dan pemegang kendali kekuasaan menjadi rujukan bagi masyarakat pedesaan (tradisi kecil). Termasuk perkara penghormatan untuk beringin. Pembesar Kerajaan Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta merawat ringin dengan dikurungi. Maklum bila terbit istilah: “ringin kurung”. Beringin kurung merupakan realitas yang lazim dijumpai di banyak tempat sampai kini, tanpa kecuali di pedesaan. 

Disibak lebih dalam, penghormatan warga terhadap kesucian pepohonan sebetulnya berkelindan dengan aspek fenomena religio-magis. Dari optik antropologis, Sudiman (1986) mencemati kepercayaan terhadap kekeramatan dan keangkeran pohon bermula dari suatu pandangan manusia terhadap lingkungannya detik itu. Periode purba, kahanan alam masih liar. Hutan belantara ditumbuhi aneka pepohonan besar dan tumbuhan liar, juga dihuni hewan buas. Keadaan alam demikian ini timbulkan persepsi bahwa pepohonan punya kekuatan gaib. Selain tumbuh besar, berakar kuat, dan berusia lama, fisik pohon beringin yang merimbun juga direken bagus.

Dalam akar religi animisme-dinamisme, pohon dimaknai tempat bercokol dewa dan roh leluhur yang tutup buku kehidupan. Sebab itulah, pohon ditakuti, diagungkan, dipuja, dan dikasih sesaji agar tak murka. Fakta ini turut menegaskan bahwa sebelum pengaruh agama Buddha dan Hindu merangsek ke Nusantara, kakek moyang sudah menempatkan pohon sebagai unsur vital dalam kehidupan manusia bersama tanah dan air. Beberapa suku bangsa Indonesia yang hampir tak terjangkau pengaruh kebudayaan Hindu, seperti Dayak Ngaju dan Batak Toba, sedari dulu juga mengeramatkan dan memandang suci pohon. 

Selepas mapannya pengaruh Buddha dan Hindu, tafsir ringin meluas. Ia dianalogikan alam semesta (kosmologi). Semisal, batang pohon disimbolkan poros dunia. Altar atau singgasana dari batu umumnya berada di bawah pohon dipahami sebagai pusat bumi. Sedangkan cabang dan akar pohon menunjukkan tinggi-rendahnya keadaan suatu eksistensi. Kemudian, pagar mengitari pohon adalah batas daerah kosmos nan suci.

Tradisi literasi ikut menyokong tanaknya pemahaman pohon di batok kepala. Naskah keagamaan menyurat sifat kemakmuran dan kekeramatan pohon suci. Ambillah contoh, acap berwarna hijau lantaran berdaun, berbunga indah dengan bau semerbak, berbuah penuh untaian mutiara bergantungan di dahan. Disertai pundi uang yang ditaruh di bawah pohon di sekeliling batangnya. Digambarkan juga adanya binatang mitis sebagai penjaga pohon suci dari serangan hantu dan setan yang berniat jahil. Lagi-lagi dijumpai elemen pagar atau tembok mengelilingi pohon demi memelihara kesucian. 

Sumber sezaman merekam aktivitas warga sekitar Kota Bengawan mensakralkan beringin. Serat Pratelan Wontenanipun Candhi, Reca, Patilsan, Padusan Sasamipun ing Karesidhenan Surakarta (1930an) membeberkan di pedesaan Baki, Sukoharjo terdapat wit waringin temanten. Beringin dianggap wingit ini ditanam Kanjeng Pangeran Natakusuma yang dikebumikan di masjid besar Kerajaan Kartasura permulaan abad XVIII. Bisa ditebak umur pohon, yakni dua abad lebih. Orang-orang yang hendak menikahkan buah hati menyambangi pohon dan memberi sajen. Mereka memetik daunnya untuk bahan kembar mayang. Asa terpacak, pihak mempelai semoga hidup langgeng sampai kakek-nenek. 

Yang menarik, serat ini menyuratkan “bencana” menimpa masyarakat sewaktu berani memotong dahan beringin. Warga memotong dahan untuk kayu bakar pabrik atas titah tuan administratur onderneming (perkebunan) di Temulus. Sebelum rampung menebangi, tiba-tiba penebang dan warga sekitar dilanda sakit mencret secara bersamaan. Kampung gempar. Lalu, seorang penduduk yang paham ilmu spiritual lekas minta maaf dan menyorongkan sesaji kepada pepunden beringin. Tak berapa lama sakit perut yang diderita warga lenyap. 

Cerita lama di muka tidak bisa dipandang klenik dari sudut pandang kebudayaan lokal. Justru sebentuk keteladanan leluhur memposisikan pohon beringin begitu penting, sampai dikurungi. Pohon ini sejatinya menyimpan air dan menghasilkan oksigen, bukan sekadar memayungi kepala dari terik mentari dan guyuran hujan. Kita berhutang padanya. Maka, keberadaannya kudu dijaga.

 

 

Penulis: Heri Priyatmoko
Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma
Founder Solo Societeit

TrubusOpini
Penulis : Heri Priyatmoko
Editor : Syahroni

Opini Lainnya

Karmin Winarta 04 Mei 2019 09:28 WIB

Karmin Winarta 30 Mar 2019 09:00 WIB

Karmin Winarta 24 Mar 2019 10:00 WIB